Ekosistem lamun (seagrass) merupakan salah satu penyerap karbon biru (blue carbon) yang paling efektif di wilayah pesisir. Kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan perairan menjadikannya komponen penting dalam mitigasi perubahan iklim. Lamun tidak hanya menyimpan karbon pada bagian tumbuhan yang tampak, seperti daun, rimpang, dan akar, tetapi juga menyimpan jumlah yang jauh lebih besar di dalam sedimen tempat mereka hidup. Sedimen berlumpur dan berpasir yang tertutup padang lamun cenderung minim oksigen sehingga memperlambat proses dekomposisi, memungkinkan karbon organik terperangkap selama ratusan hingga ribuan tahun. Oleh karena itu, estimasi stok karbon pada lamun dan sedimen laut sangat penting untuk memahami kontribusi ekosistem pesisir terhadap penyerapan karbon global dan mempertimbangkan perlindungan mereka sebagai strategi mitigasi iklim.
Secara umum, estimasi stok karbon di ekosistem lamun dilakukan dengan mengukur dua komponen utama, yaitu karbon biomassa lamun dan karbon sedimen. Biomassa lamun mencakup biomassa di atas permukaan (above-ground biomass, AGB) seperti daun dan batang, serta biomassa di bawah permukaan (below-ground biomass, BGB) seperti akar dan rimpang. Proses estimasinya biasanya dimulai dengan sampling lapangan menggunakan kuadrat berukuran tertentu (misal 25 × 25 cm atau 50 × 50 cm), kemudian biomassa yang diambil dikeringkan menggunakan oven hingga mencapai berat konstan untuk memperoleh nilai berat kering. Nilai berat kering ini kemudian dikonversi menjadi kandungan karbon menggunakan faktor konversi standar (biasanya 0,34–0,45). Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperkirakan berapa banyak karbon yang tersimpan dalam biomassa per satuan luas, misalnya dalam satuan gram C/m² atau ton C/ha.
Sementara itu, stok karbon sedimen umumnya menjadi komponen terbesar dalam penyimpanan karbon ekosistem lamun. Pengukuran dilakukan dengan pengambilan inti sedimen menggunakan alat seperti corer atau pipa paralon. Sampel sedimen kemudian dianalisis di laboratorium untuk menentukan kadar karbon organik total (Total Organic Carbon/TOC). Metode yang umum digunakan adalah Loss on Ignition (LOI) untuk mengukur kadar bahan organik, atau analisis karbon menggunakan elemental analyzer untuk mendapatkan nilai karbon yang lebih presisi. Kedalaman pengambilan sedimen—biasanya 30 cm, 50 cm, atau hingga 1 meter—sangat berpengaruh karena semakin dalam sedimen, semakin besar pula potensi penyimpanan karbon jangka panjang.
Estimasi stok karbon pada lamun dan sedimen laut tidak hanya memberikan gambaran kapasitas mitigasi iklim, tetapi juga menjadi dasar bagi pengelolaan dan konservasi kawasan pesisir. Padang lamun diketahui mampu menyimpan hingga 83.000 ton karbon per km², jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penyimpanan karbon pada hutan daratan tertentu. Jika padang lamun mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, reklamasi, eutrofikasi, atau penangkapan ikan destruktif, maka karbon yang sebelumnya tersimpan stabil dalam biomassa dan sedimen dapat dilepaskan kembali ke atmosfer sebagai CO₂. Proses ini meningkatkan emisi karbon yang berkontribusi pada pemanasan global. Oleh sebab itu, data estimasi stok karbon penting untuk menentukan kawasan bernilai konservasi tinggi, menghitung potensic emisi akibat degradasi lamun, serta mendukung skema ekonomi biru seperti perdagangan karbon (blue carbon credit).
Selain aspek ekologis, penelitian mengenai estimasi stok karbon di lamun dan sedimen laut juga memiliki nilai strategis dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan. Negara-negara dengan garis pantai luas, seperti Indonesia, memiliki potensi karbon biru yang sangat besar dari ekosistem mangrove, lamun, dan rawa pasang surut. Mengetahui besarnya stok karbon di padang lamun dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan merumuskan kebijakan perlindungan pesisir, termasuk penetapan kawasan konservasi, restorasi padang lamun, dan penguatan tata kelola ekosistem pesisir. Data stok karbon ini juga dapat diintegrasikan ke dalam perhitungan Nationally Determined Contributions (NDC) dalam agenda perubahan iklim global.
Secara keseluruhan, estimasi stok karbon pada lamun dan sedimen laut merupakan kegiatan ilmiah yang penting, strategis, dan berdampak luas. Selain memberikan pemahaman mendalam tentang fungsi ekologis lamun sebagai penyerap karbon, hasil estimasi juga menjadi landasan bagi kebijakan konservasi dan mitigasi perubahan iklim. Manfaat ekologis dan ekonominya menjadikan penelitian karbon biru pada ekosistem lamun sebagai salah satu bidang yang semakin penting dalam sains kelautan modern.