Hai Mariners! Kembali lagi di SIC dengan laboratorium Teknologi Kelautan. Mariners tau gasih kalau kita bisa memantau Hiu Paus dari jarak jauh? Nah, episode kali ini kita akan membahas Penginderaan Jarak Jauh untuk Mengetahui Pola Migrasi Hiu Paus.
Penginderaan jauh adalah teknologi untuk memperoleh informasi tentang permukaan bumi tanpa kontak langsung, dengan mendeteksi radiasi elektromagnetik menggunakan sensor di satelit, pesawat, atau drone. Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di dunia yang memakan plankton dengan cara menyaring dengan insangnya, yang disebut sebagai filter feeder. Mereka berperan penting dalam menjaga ekosistem laut dan tersebar di perairan Indonesia seperti Sabang, Situbondo, dan Papua. Statusnya terancam punah menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) karena ancaman dari aktivitas manusia, sehingga perlindungan dan konservasi sangat diperlukan.
Pola Migrasi Hiu Paus
Mariners, sampai sekarang belum diketahui seberapa terfragmentasinya populasi hiu paus di dunia. Tapi yang jelas, hiu paus dikenal sebagai perenang jarak jauh. Data pelacakan satelit menunjukkan mereka bisa bermigrasi hingga ribuan kilometer dalam hitungan minggu atau bulan. Misalnya, seekor hiu paus yang ditandai di Laut Mindanao, Filipina, tercatat menempuh lebih dari 3.000 km menuju ZEE Vietnam dalam dua bulan. Ada juga yang berenang bolak-balik dari pantai Sabah ke lepas pantai Malaysia sejauh 2.152 km, bahkan ada yang menempuh lebih dari 12.000 km dari Teluk California menuju perairan internasional di Pasifik Selatan!
Biasanya, mereka bermigrasi mengikuti musim, berkumpul di perairan tertentu selama beberapa bulan. Belum jelas apakah semua kelompok umur dan jenis kelamin ikut migrasi ini, tapi yang pasti, pergerakan mereka melintasi batas negara. Karena pola migrasi yang luas ini, banyak ahli menduga kalau hiu paus di seluruh dunia mungkin sebenarnya adalah satu populasi besar yang saling terhubung.
Teknologi penginderaan jauh ternyata jadi andalan buat ngintip aktivitas migrasi hiu paus tanpa harus ganggu mereka, lho Mariners! Begini sistematikanya:
1. Lacak Langsung Pakai GPS di Sirip
Dengan pasang alat GPS di sirip dorsal, gerakan hiu paus bisa dipantau real-time lewat satelit, tanpa menyakiti mereka. Cara ini udah dipakai di Teluk Cenderawasih, dan jauh lebih ramah lingkungan dibanding metode lama.
2. Cek Lingkungan Laut via Satelit
Data satelit soal suhu laut dan klorofil-a (tanda banyaknya plankton) bantu deteksi area favorit hiu paus. Jadi, kita bisa tahu kenapa mereka doyan muncul di tempat tertentu.
3. Peta Area Favorit Hiu Paus
Gabungan data GPS dan pengamatan lapangan dipakai buat bikin peta jalur migrasi dan spot ngumpul hiu paus. Di Indonesia, hotspot kayak Teluk Cenderawasih jadi titik penting yang sering mereka kunjungi.
4. Baca Pola Gerak dari Waktu ke Waktu
Dengan data yang terus dikumpulkan, para peneliti bisa tahu kapan dan di mana hiu paus suka nongkrong, serta faktor lingkungan yang ngaruh ke gerakan mereka. Info ini penting banget buat konservasi dan cegah bentrok sama jalur kapal.
Gampangnya, teknologi ini bikin kita bisa jagain mereka sambil tetap jaga jarak. Keren banget ya!
Manfaat untuk Konservasi dan Kebijakan
Teknologi penginderaan jauh dan penanda satelit bener-bener ngebantu banget buat jaga hiu paus, apalagi di laut Indonesia. Dengan lacak gerakannya secara real-time, peneliti bisa ngerti ke mana aja mereka pergi, di mana mereka sering mampir, dan berapa lama mereka stay di satu tempat.Data ini penting banget buat ngerti pola hidup dan kebutuhan si hiu paus yang hobi keliling lautan. Dari situ, kawasan konservasi bisa dikelola lebih tepat — tahu mana yang harus dilindungi dan gimana ngatur aktivitas manusia biar gak ganggu mereka. Selain itu, data juga bantu deteksi area rawan konflik, misalnya jalur kapal, industri, atau tempat wisata. Jadi, kebijakan ruang laut bisa dibuat lebih bijak dan hiu paus pun lebih aman dari tabrakan kapal atau penangkapan yang gak sengaja.
Wow! Info yang sangat menarik sekaligus bermanfaat ya! Jangan lupa nantikan episode SIC berikutnya! Sampai jumpa lagi Mariners!
Dafar Pustaka
Fajeriana, N. 2020. Pelatihan Menanam Kangkung dengan Sistem Hidroponik WICK di Kelurahan Tampa Garam Distrik Maladum Mes Kota Sorong. Abdimas: Papua Journal of Community Service. 2(1): 39–46.
Jentewo, Y. A., Bawole, R., Tururaja, T. S., Parinding, Z., Siga, H. R., Dailami, M., dan Toha, A. H. A. 2021. Ukuran dan luka hiu paus , Rhincodon typus Smith , 1828 di Taman Nasional Teluk Cenderawasih [ Sizing and scarring of whale shark ( Rhincodon typus Smith , 1828 ) in the Cenderawasih. Jurnal Iktiologi Indonesia. 21(3): 199–213.
Nurazizah, R. 2022. Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Dalam Bidang Transportasi. Jurnal Geografi. 10(5).
Pattiasina, T. F. 2020. A Review of The Concept and Application of Geospatial Technology in Mapping and Modeling the Migration of Whale Shark (Rinchodon typus). Musamus Fisheries and Marine Journal. (April): 77–101.
Suruan, S. S., Kamal, M. M., Bawole, R., dan Mulyadi, C. T. 2018. Prosiding Simposium Nasional Hiu Pari Indonesia Ke-2 Tahun 2018 SEBARAN POPUL ASI IKAN HIU PAUS ( Rhincodon typus , Smith 1828 ) DI PERAIRAN KWATISORE , KABUPATEN NABIRE , PROVINSI PAPUA DISTRIBUTION OF THE WHALE SHARK POPUL ATION ( Rhincodon typus , Smit. 23–32.
Syah, A. F., Musrifah, dan Cahyono, H. 2018. PEMODELAN DAERAH POTENSIAL KEMUNCULAN HIU PAUS ( Rhincodon typus ) MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI PERAIRAN PROBOLINGGO , JAWA TIMUR MODELING OF POTENTIAL OCCURRENCE ZONES OF WHALE SHARK ( Rhincodon typus ) USING REMOTELY SENSED DATA IN PROBOLINGGO. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 24(September): 209–216.